Senin, 28 April 2014

Menanti Bulan Terbelah




“Jlegerr...” suara petir menyambar dari utara. Tepat di balik Gunung Guntur yang bertengger kokoh mencengkram bumi, kilatan itu bermunculan. Sepersekian detik kecepatan cahaya, dengan diukur oleh rumus fisika relativitas Einstein, dan intensitasnya diterjemahkan dalam satuan candela lalu berkutat rumit dengan konverensi ke satuan joule, Kandela masih saja bergelut dengan soal-soal yang mengerumuni jemarinya. Sudah payah sang ibunda memanggil-manggil dari balik jendela agar anaknya segera masuk. Tapi nihil, Kandela masih tetap saja santai di luar sambil menggantungkan kaki di atas kursi bambu rumah panggungnya. Matanya yang gemerlap menangkap bayangan kilat. Saat suara gemuruhnya menyusul cahaya, segera ia katupkan telinga, menahan agar gelombang besar yang menghantar di udara tidak memperrusak gendang telinganya.
Sebenarnya, tak mengatupkan telinga pun tak menjadi beban bagi seorang gadis usia enam belas tahun bernama Kandela. Tuhan telah menitipkan agar gendang telinganya tidak terusik oleh gelombang apapun sejak usianya enam tahun. Tuhan menganugerahkan agar gendang telinganya beristirahat lebih dahulu daripada organ tubuhnya yang lain. Dia masih bersyukur karena Tuhan telah memberinya enam tahun untuk bisa belajar berkomunikasi dengan orang lain sehingga di saat nikmat pendengarannya diambil, ia masih dikaruniai nikmat bicara meski terbatas.
Senja semakin menggeser malam untuk segera tiba, sedang kilatan di balik Gunung Guntur sana masih belum hilang. Meski tak setiap kilatan diiringi intro gelegaran, Kandela masih saja berusaha menutup telinga dengan kedua tangannya setelah melihat kilatan.
“0,36 detik” seru Kandela, suaranya agak keras. Maklum, ia belum peka untuk memberi volume proporsional kepada lawan bicaranya.
“Kurang akurat, seharusnya 0,51 detik. Mungkin ada yang salah hitung,” tulis lawan bicaranya dalam secarik kertas buram yang lembap dengan cipratan hujan.
Ternyata di luar rumah, Kandela ditemani seseorang yang sangat persis raut wajahnya, juga gestur tubuhnya. Kelvina namanya. Ya, Kandela dan Kelvina adalah putri kembar mantan guru fisika SMP, Bu Budi dan Pak Hadi. Namun sayang, Bu Budi menderita osteoporosis di usianya yang masih cukup muda sehingga ia meninggalkan aktivitas mengajarnya. Untunglah dinas pendidikan masih berbaik hati untuk mengurus pensiun mudanya, sehingga ia mengandalkan uang pensiun muda sebagai penyambung hidup keluarganya. Namun entahlah ke mana Pak Hadi berkelana. Semenjak Bu Budi divonis osteoporosis parah oleh dokter, bukannya menyiram hati yang gersang dan memadu jiwa yang redup, Pak Hadi tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Entah ke mana angin membawanya dan ke mana deru langkah menghantarnya. Hilang, pupus, sempurna.
***
“Vin, koreksi hasil hitunganku yang tadi, aku belum yakin sama jawabanmu. Aku yakin, suara muncul 0,36 detik setelah cahaya kilat tampak!” Kandela mengerenyitkan dahi.
Kelvina memberi setumpuk buku dan coretan-coretan dalam kertas buram.
“Ooh, jadi salah di sini. Cuma salah pengali doang aku...” ungkap Kandela setelah mengkaji ulang beberapa halaman buku dan melirik jawaban kembarannya.
“Ya tetap saja salah, Del... harus teliti dan akurat!”
“Apa?”
“Kamu harus teliti sehingga hasilnya akurat.”
“APA?” suara Kandela makin keras.
Kelvina tersenyum simpul, ia lupa keadaan kembarannya. Dengan sabar ia keluarkan sehelai kertas buram kecil dan mengambil pena, Kamu harus teliti sehingga hasilnya akurat, begitu tulisnya.
“Ooh,” barulah Kandela paham. “Enak ya kamu Vin... kamu pasti lebih mengerti pelajaran dibanding aku. Aku tuli...”
“Stttt...” telunjuk lentik Vina diletakkan di depan bibir Dela. “Jangan bicara itu lagi. Kita saling melengkapi, Del. Kita harus bersyukur karena masih bisa sekolah berdua, meski gantian juga.”
Kandela mengusap wajah, tanda mohon ampun kepada Tuhan. Wajahnya kembali penuh harap.
“Besok kamu saja yang pergi sekolah. Supaya kamu lebih paham materi fisika kita dengan mengamati mulut Pak Guru langsung dan melihat slide presentasinya,” Vina kembali menulis dalam kertas, dengan cepat ia berikan kertas itu kepada kembarannya.
Untunglah Vina dan Dela kembar. Setidaknya, sambil menyelam minum air. Dela dan Vina gantian pergi ke sekolah dan saling melengkapi satu saama lain dalam pelajaran. Hal itu adalah ide yang digagas Vina. Karena mereka berkeinginan keras untuk sekolah bersama sedangkan biaya tidak melewati garis toleran, akhirnya itulah cara yang bisa mereka tempuh.
***
Seutas asa merambat ke langit. Ingin rasanya menembus bulan hingga arasy, lalu Tuhan menebus asa itu dengan nyata. Ibu bersujud di atas sajadah terhampar di sudut kamar. Bambu yang menjadi penahan badan berderit-derit. Tulang-tulang badan yang semakin hari semakin menyusut dan nyeri yang bersahutan, ia tahan sebisa mungkin. Karena kebaikan berebih yang dicurahkan Tuhan, karena cahaya wajah yang akan nampak di hari akhir, dan karena doa-doa akan cepat terkabul di penghujung malam, Ibu memaksakan raga untuk shalat malam dan terjaga sampai mentari menampakkan gelombang berfrekuensi rendahnya, cahaya merah.
Dari atas pembaringan, sang ibu memanggil kedua putrinya.
“Kelvina, Kandela, kemari, Nak...” suara parau itu bergema.
Kelvina segera menghampiri sambil mengenakan seragam sekolah. Kandela dituntunnya dan dipaksa berhenti dari kerumunan soal yang dari kemarin ia geluti.
“Ibu mau minta maaf,” ucap Ibu perlahan. “Ibu sudah rapuh, Nak...” sebutir kristal meluncur hingga bertepi di atas pipi yang mulai keriput itu. “Ibu belum bisa menunaikan hak Kandela dan Kelvina untuk sekolah. Ibu belum bisa membuat kalian barengan sekolah. Ibu tahu, satu-satu, bergantian, adalah hal yang penuh perjuangan. Tapi sayangku, Ibu yakin dengan usaha dalam membagi ilmu dan jadwal sekolah itu adalah usaha terbaik untuk meraih ilmu dari Tuhan. Ibu harap Dela dan Vina bisa lebih ilmunya dari Ibu. Ibu hanya mantan guru dan ibu berdoa supaya kalian jadi ilmuwan fisika.”
Ketiganya berpelukan. Sangat besar kegigihan mereka dalam menggali ilmu alam yang satu ini, fisika. Keluarga itu memang berlatar belakang pecinta fisika.
“Sayangku, suatu saat nanti Ibu yakin, dengan kalian belajar fisika semakin dalam, keimanan kalian akan semakin bertambah. Dengan semakin banyaknya pengetahuan fifika yang didapat, harus semakin banyak pula kajian Quran yang kalian pahami. Agar Allah ridha, Nak...” ranjang reyot tempat Ibu berbaring bergetar panas, sepanas bara asa yang menggebu dalam dirinya untuk ditularkan kepada anak-anaknya.
***
Suara rengekan kucing betina di belakang rumah menembus bilik dinding rumah panggung di pulau Jawa. Hamparan langit pekat dengan awan-awan kelam yang siap menumpahkan air. Gelegaran suara pengusir setan dari lapisan langit turun ke bumi dengan disertai kilatan-kilatan kecil sebelumnya. Sayang, Kandela yang biasanya menggebu menghitung selisih waktu antara kilat dan suara, sedang tidak menunjukan aktivitas fisik yang terjaga. Ia tidur, sangat pulas bersama kembarannya. Namun, andaikata elektro enchepalogram dipasang di kepalanya, pasti menunjukkan sinyal-sinyal postif bahwa dalam keadaan tidur pun, pikirannya masih meangkasa liar, menjelajah ilmu-ilmu fisika, sepertinya.
Teruslah gelegaran dan kilatan itu mengganggu penghuni pulau Jawa. Dengan kelamnya malam yang mencekam, suara burung hantu yang menimpali gelegaran suara dari langit, suara jangkrik, dan suara nyaring lain, semakin menambah horor latar adegan. Meski demikian, karena kebanyakan orang telah terlelap pulas, suasana horor itu tak diindahkan, hingga sekerdil suara yang awalnya jauh kian membesar dan mendekat.
Suara itu bak gemuruh sebuah zat yang tak asing lagi di telinga orang Aceh atau Jepang. Ya, gelombang air. Tiba-tiba dari sebelah selatan, gemuruh air itu berderu, cepat. Mungkin ia ingin menyaingi gemuruh langit.
“Allahu akbar... Aaaa...”
“Tolong.... tolong...”
“Ya Allah...”
Suara manusia bermunculan tiba-tiba. Air sangat deras menyapu daratan. Sebuah bencana terjadi tak terkira. Banjir bandang terjadi! Semua orang histeris. Ada bayi yang hanyut, rumah yang terseret, harta benda tersapu, dan semua memang berantakan.
Rumah Ibu, Kandela, dan Kelvina pun teruntuhkan air. Mereka berpencar, luluh lantak karena tsunami kecil yang tiba-tiba mampir tanpa permisi.
“Ibu...” Dela berteriak.
“Ibuuu...” Vina semakin keras.
Ibunya tidak ia dapati saat mata mulai terbelalak. Yang ada hanya keadaan tak simetris, keadaan luluh lantak. Semua yang nyata ini seperti mimpi buruk yang tiba-tiba.
Jerit tangis menggelegar di kota itu. Semua orang meminta perlindungan dan mencari keluarganya yang hilang terbawa arus banjir bandang yang dahsyat. Dengan modal mata dan keberanian, Dela dan Vina menyusuri sekeliling wilayah dengan terisak, mencari sosok yang sangat dicinta, yang telah menopang hidup anak kembar itu dengan keringatnya meski kerapuhan tulang terus menggerogoti setiap detiknya.
Berkelebatlah banyangan Ibu dalam benak mereka. Tersimpan lengkap bagaimana terakhir kali Ibu memanggil mereka berdua dan menyemangati mereka. Terlukis indah ketika sore hari dalam gemuruh dan kilatan, Ibu memanggil untuk segera masuk rumah sedangkan Dela dan Vina masih asyik dengan soal-soal fisika dalam pangkuan. Teringat lekat pula saat Dela dan Vina mengintip Ibunda yang sedang khusyuk shalat malam dalam kepayahannya.
“Ibuuu...” Dela menjerit, mengobrak-abrik puing-puing yang luluh lantak. Tersingkap sebuah kertas basah dari bawah kayu triplek, kertas yang tulisan tintanya masih jelas dan sepertinya kedua anak kembar itu mengetahui siapa yang menulisnya.
Untuk anak-anakku, Kandela dan Kelvina...
Banyak cobaan yang mewarnai hidup Ibu dan kalian. Saat Kandela kehilangan pendengaran karena terjatuh, saat Ibu osteoporosis parah, juga saat Bapak hilang tanpa jejak pasti, itu semua ujian bagi kita.
Ibu yakin, kalian pasti sukses menjadi ahli fisika. Kalian bisa menghadapi hidup yang keras ini dengan keunikan kalian masing-masing. Tak perlulah fisika relativistik dengan kecepatan cahaya berlaku dengan sistem hidup kalian, cukup fisika klasik dengan hukum Newton yang perlu kalian terapkan. Bukan artinya Ibu mendoakan agar kalian tak melesat seperti halnya roket luar angkasa, Ibu hanya ingin kalian memaknai dan merasakan selangkah demi selangkah, bahwa hidup ini berarti, bahwa gaya gesek itu pewarna, bahwa kekonsistenan adalah keniscayaan dalam kebaikan, bahwa setiap aksi pasti akan dibalas reaksi yang setimpal.
Tak perlu kalian menanti bulan terbelah dua kali untuk bisa maju. Tak perlu kalian menunda waktu, karena memang bulan hanya terbelah sekali oleh sang Nabi. Artinya, kalian telah diberi kesempatan detik ini pula untuk merubah keadaan kalian menjadi lebih baik. Dan bulan pun telah terbelah, namun tak banyak orang mengetahuinya. Suatu yang mustahil bagi kebanyakan insan bisa terjadi, Ibu yakin Tuhan pun menjanjikan kesuksesan jika kalian berusaha.
Derai air mata tak tertahankan. Kesedihan semakin kelam. Namun di balik kesedihan itu, bersanding semangat baru, meski seiring berjalannya waktu, bersama Ibu tidak kunjung bertemu.

1 komentar :

endah suprihatin mengatakan...

luar biasa menginspirasi. :)

Posting Komentar

Yuk Mentoring

Yuk Mentoring

Wolferine mentoring

Wolferine mentoring

Islamic Student Center IPB Copyright © 2011 | Template created by O Pregador | Powered by Blogger